Sepuluh Juta
Sepuluh Juta
Oleh: Eneefatimah
Pagi sekali aku mempersiapkan diri, semalam
gigi terasa sakit. Aku periksa gigi ke
Rumah Sakit Swasta di kotaku. Setelah mendaftar aku duduk sambil sesekali
chating via WhatsApp. Lama sekali
menunggu hingga aku tak sabar karena sepulang dari RS aku berencana mampir ke
ATM untuk setor tunai. Uang sepuluh juta nominal seratus ribuan terikat karet
sudah ada di dalam tas putihku.
sumber tangkapan layar internet
Aku pandangi banyak orang lalu lalang di
rumah sakit, ada yang antre di loket, ada yang duduk sambil memijit kepalanya
mungkin pusing.
Ada pula yang dengan santai makan kacang
dan minum air mineral. Tapi kebanyakan raut wajahnya tegang, menunggu nama atau
nomernya dipanggil.
Aku pun memegang tas erat erat hingga aku
duduk kembali setelah hilir mudik berjalan disekitar ruang poli.
"Mbak, saya boleh duduk disini?"
Perempuan paruh baya menyapaku. "Silahkan Bu," jawabku sambil aku
meneruskan obralan via WhatsApp. Tak lama, aku ingin mengambil tissue di dalam
tas, dan kucari tas yang tadi di pangkuanku. Tas itu tak ada, aku menoleh ke
sebelah, ibu yang tadi duduk di sampingku juga tak ada. Aku panik, dan menangis
sejadinya. Ya Allah uang sepuluh juta yang akan kutransfer juga lenyap.
Tangisku semakin keras, tak kuhiraukan antrean di rumah sakit, dan semua orang
melihat padaku.
"Ma, bangun ma...mama..ayo bangun,
sudah hampir habis subuhnya," terdengar suami membangunkan ku. Berdebar
jantungku dan pusing kepalaku karena kaget.
#Pentigraf
Bondowoso, 12 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar