Puisi Puisi Hujan

gambar dari google

Selebat Hujan Rindu
Eneefatimah

Deras hujan adalah nafas dikala gelisah
Basah hujan adalah dingin saat sendiri
Gemuruh petir adalah tangis di kesunyian-menyesakkan jiwa-

Gelap mendung adalah kesedihan yang enggan pergi
Tetes tetes air mengalir di anak anak sungai pengharapan
Selalu pilu, merangkum semua lamun tentang rindu
Pada kehangatan malam awal Januari
Saat rembulan tak kirimkan kabar
Hingga akhir penantian  entah sampai kapan
Ketika janji terlanjur manis
Namun diri memaksa temu
Tuntaskan frasa bisikan rindu

Bondowoso, 11 Januari 2021


Hujan Pagi Ini

Eneefatimah

Derasnya mengingatkan pada tangis
Saat rinduku terbawa angin
Dan basahnya mengingatkan pada bekunya hati saat cinta memudar
Rintiknya menembus tubuh
seakan berkata aku tetap disisimu
Mengurai kisah yang hampir tenggelam
Walau hanya dari kejauhan tatap matamu isyaratkan pilu
Tapi semua hampa seperti suara deras hujan yang mendera
Dan tak ada yang kuasa menghentikan
Di ujung penantian ku, masih dibawah awan hitam
Basah hujan pada dahan, daun dan tanah
Menggugat rasaku agar aku tetap kuat
Menepis badai, membasuh luka seperti hujan pagi ini
Yang kuharap lebur bersama tetes air mata hingga menjadi sungai kenangan 

Bondowoso, 11 Februari 2021


Hujan datang lagi

Eneefatimah

Aku bersiap menitipkan salam rinduku

Aliran airnya selalu kutunggu untuk membawa perahu kertas bertuliskan rasa cintaku

Aku menunggu hujan; padanya aku titipkan salam

Aku juga menunggu gemuruh petir ya, agar aku bisa berteriak dan ucapkan; i love you sekerasnya

Sungguh, aku cinta kamu

Langit kelabu saksinya; karena kutahu di redup nya sinar cinta kan menyala

Aku menunggu banjir; yang hanyutkan gundah ku ketika cinta ini tak berbalas

Tapi aku ingin hujan mengusap air mataku, agar tangisku tak ada yang tahu

Bondowoso, 13 Januari 2021



Missing Rain 2

Eneefatimah

Melamunkanmu disaat hujan, membuat mataku enggan terpejam
Rintiknya membuat rinduku semakin menderas
Angin kencang membuat  debar jantung semakin keras
Terbayang tangan kita menggenggam erat, sebelum akhirnya terlepas
Kita tak pernah lagi bertemu, namun dedoaku kulangitkan
Karena aku tahu kau pun menanti  hujan datang lagi
Pasti kau titipkan rindu pada mendung, hingga hujan membasahiku
Dan aku merasakan dinginnya cinta yang tlah membeku
Seperti tetes air di sudut mata itu
Saat kau ucap, cinta tak harus memiliki, 
Entah kapan kita bersama lagi, walau di keabadian
Cintaku cintamu tetap bersemi
Seperti  yang tertulis pada  puisi tentang aku dan kamu

Bondowoso, 02022021



Missing Rain (3)

Eneefatimah

Dan pada hujan deras, sederas rindu, yang selalu menjamah semua bagian tubuhku
Aku selalu tuliskan pada secarik kertas, bahwa aku masih mengingatmu
Senyum, tatapan mata dan derap langkahmu ketika kau satukan semua untuk membuktikan bahwa aku yang kau pilih
Walau kadang hujan tak sederas rindu rindu di saat awal musim bunga
Rindu yang kadang masih berada diatas langit dan belum turun membasahi raga
Rindu yang kadang tak sempat menuju temu yang akan kita hadapi bersama
Pada sebuah temu yang hanya ada aku dan kamu tanpa siapapun diantara kita
Yang seperti pernah kita bicarakan dibawah pohon rambutan, yang buahnya merah semerah hatimu saat kau tulis surat padaku
Bahwa aku tak ada duanya, aku tuntaskan semua rindumu, dan padaku kau buat bahagiamu menjadi bahagiaku
Surat itu masih tersimpan, walau tlah lusuh tapi terbaca
Tinta hitam menjadi kelabu, aku hanya berharap tak hilang juga oleh tetes hujan yang semakin menderas
Menegaskan bahwa rasa ini tetap seperti dulu, saat awal musim bunga
Saat hujan mulai menderas, menyemai benih
Cinta kita

Bondowoso, Februari ke 4, 2021



Ketika Tiba Saatnya

Eneefatimah

Rinai hujan tak seberapa deras, tapi mendebarkan jantungku
Aku tahu,pasti karena doaku pagi tadi
Sapamu pada chatt WhatsApp, membuat aku berdebar
"Semoga kamu baik baik saja"
Aku tahu ucapmu hanya karena aku tak sedang baik baik saja
Ada sejumput galau di pagiku
Semua karenamu, karena aku terlalu inginkan mu
Padahal kamu, sudah tak lagi bersamaku
Kau pergi tak kembali, melebur asa bersama gundukan tanah
Yang masih basah oleh air dan harum mawar pengantar doa
Semoga engkau tenang disisiNya

Bondowoso, 15 Februari 2021






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIKSI CiNTAKU

Sepuluh Juta

KURSUS BOGA, SKB AJA